Tampilkan postingan dengan label TUGAS MID SEMESTER(agama). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUGAS MID SEMESTER(agama). Tampilkan semua postingan

15 Februari 2009

MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Perdagangan dan Perkawinan
Dengan menunggu angina muson (6 bulan), pedagang mengadakan perkawinan dengan penduduk asli. Dari perkawinan itulah terjadi interaksi social yang menghantarkan Islam berkembang (masyarakat Islam).
2. Pembentukan masyarakat Islam dari tingkat ‘bawah’ dari rakyat lapisan bawah, kemudian berpengaruh ke kaum birokrat (J.C. Van Leur).
3. Gerakan Dakwah, melalui dua jalur yaitau:
a. Ulama keliling menyebarkan agama Islam (dengan pendekatan Akulturasi dan Sinkretisasi/lambing-lambang budaya).
b. Pendidikan pesantren (ngasu ilmu/perigi/sumur), melalui lembaga/sisitem pendidikan Pondok Pesantren, Kyai sebagai pemimpin, dan santri sebagai murid.
1. Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:
1. Satu-satunya sumber ini adalah diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082)
2. Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:
1. Catatan perjalanan marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun 1292 M.
2. K.F.H. van Langen, berdasarkan berita China telah menyebut adanya kerajaan Pase (mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
3. J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke
4. Indonesia pada abad ke 13.
Negara-negara yang membawa ajaran agama islam adalah:
Gujarat (India)
Pedagang islam dari Gujarat, menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antar lain:
1. ukiran batu nisan gaya Gujarat.
2. Adat istiadat dan budaya India islam.
Persia
Para pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti antar lain:
1. Gelar “Syah” bagi raja-raja di Indonesia.
2. Pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syeh Siti Jenar).
3. Pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).
Arab
Para pedagang Arab banyak menetap di pantai-pantai kepulauan Indonesia, dengan bukti antara lain:
1. Menurut al Mas’udi pada tahun 916 telah berjumpa Komunitas Arab dari Oman, Hidramaut, Basrah, dan Bahrein untuk menyebarkan islam di lingkungannya, sekitar Sumatra, Jawa, dan Malaka.
2. munculnya nama “kampong Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak mengenalkan islam.
China
Para pedagang dan angkatan laut China (Ma Huan, Laksamana Cheng Ho/Dampo awan ?), mengenalkan islam di pantai dan pedalaman Jawa dan sumatera
Sumber:1http://www. sejarahwan.wordpress.com/

dajjal

DAJJAL

Oleh yeyen nursipa


Dari artikel ini,yang saya kutip dari berbagai sumber akan menjelaskan tentang:
-ciri-ciri fisik dan sifat dajjal
-waktu dan tempat keluarny dajjal
-tanda-tanda kemunculan dajjal
-sebelum datangnya dajjal bumi akan mengalami kekeringan selama 3 tahun
Adapun penjelasana sebagai berikt:
1. Ciri-ciri fisik dan sifatnya
Dajjal adlah laki-laki keturunan adam.Ia seorang pemuda yahudi berkulit merah,bertubuh pendek,berambut kriting,dahinya lebr,matanya yng kanan buta,diantara kedua matanya terdapat tulisan ka fa ra.seperti riwaat dari ibnu umar ra.Rosulullah bersabda “…maka aku pergi sambil menoleh,tiba-tiba ada laki-laki yang berkulit merah dan rambutnya berombak”
2. Waktu dan tempat keluarnya dajjal
Hadits Tamim Ad Dari yang di riwytkan oleh fatimah binti Qais menjelaskan bahwa posisi dajjal berada di laut yaman sedangkan janji rosul tentang tempat keluarny dajjal adalah di wilayah khurasan.
Periode pertma keluarna dajjal menunjukan bahwa dajjal keluar selama 40 hari,hari pertamanya bagai 1 thun,hari ke 2 bagai 1 bulan,hari ke 3 bagai 1 pekan,kemudin sisa-sisa hari lainnya sebagaimana hari-hari dunia lainnya.
Riwayat yang menunjukan proses keluarnya dajjal pertama kali di muka bumi.Rosulullh SAW bersabda:’di awal kemunculannya ia berkata “aku adalah nabi” padahal tidak ada nabi setelah aku.kemudian ia memuji dirinya sendiri sambil berkata “aku adalah Rabb kalian” padahal kalian tidak dapat melihat Rabb kalian sehingga kalian mati”
Dari riwyat tadi dapat di simpulkan bahw awal kemunculan dajjal tidak langsung berada dalam kondisi cacat, mtanya belum buta, dan dahinya belum terdapat tulisn ka fa ra. Sebab riwayat tersebut menyebutkan kondisi cacatnya dajjal terjdi beberapa waktu setelah Ia menyatakan ketuhanan dirinya dihadapan manusia.
Adapun keluarnya dajjal yang kedua kalinya adalah pada pertempurn terkhir antra dajjal dan kaum muslimin. Dajjal akan keluar dari arah timur Karen kemarahnnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat:”sesungguhnya dajjal akan keluar karena suatu kemarahan”.
Kemunculan dajjal dari khurasan adalah kemunculan ang terakhir kalinya. Dan ini terjadi ketikaalmahdi muncul. Kondisi dajjal saat itu cacat, matana buta sebelah kanan, di dahinya tertulis ka fa ra.
3. Tanda-Tanda kemunculan dajjal
Dari hadits tamim Ad Dari bahwa tanda tanda kemunculan dajjal adalah pohon-pohon kurma di desa Nakhl Baisan (Palestina) tidak bias berbuah lagi, keringnya air danau thabaria di Palestina dan keringnya mata air zughar yang bias mengairi perkebunan sekitarnya.(HR.Muslim 18:83)
Adapun kondisi jaman dimana dajjal muncul, maka dunia saat itu berada dalam suasana yang sangat kacau, kedzaliman merata pada setiap muslim dan peperangan terjadi tanpa mengenal henti.
4. Sebelum Datangnya dajjal bumi akan mengalami kekeringan selama 3 tahun
Sebagaimana riwayat yang di sabdakan oleh rasul:”sesungguhna sebelum keluarnya dajjal adlah tempo waktu 3 tahun ang sangt sulit, dimana pada waktu itu manusia akan ditimpa oleh kelaparan yang sangat. Allah memerintahkan kepada langit pada tahun pertama dariny untuk menahan 1/3 dari hujannya dan memerintahkan pad bumi untuk menahan 1/3 dari tanamannya kemudian allh memerintahkan kepada langit dan bumi pada tahun kedua agr menahan 2/3 dari hujan dan tanamannya kemudian pad thun ketiga allah memerintahkan untuk menahan seluruh air hujan dan menahan seluruh tanamannya.


sumber: fatihah,aladnani.2006."Dajjal sudah muncul dari khurasan".solo:Granada Mediatama

http://www.geocities.com/sabiluna/Dajjal/Bab16.html

http://sangpelangi.wordpress.com/2007/06/03/dajjal-pertama-sudah-muncul/

MAULID NABI MUHAMMAD SAW

MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Merenungi Makna Maulid Nabi

Maulid Nabi Muhammad Saw. dijadikan hari besar di negara kita, yang berarti adalah hari libur nasional. Di tahun 2006 ini, tanggal 12 Rabiul Awal 1427 jatuh pada tanggal 11 April. Tapi atas kebijaksanaan pemerintah, libur nasional untuk memperingati kelahiran Nabi pembawa Risalah Islam ini dimajukan pada hari senin tanggal 10 April.

Berlaku sejak masa pemerintahan Megawati, hari libur yang jatuh pada hari Selasa di majukan ke hari Senin sedangkan hari libur yang jatuh pada hari Kamis diundurkan pada Jumat. Bahkan di bulan Maret lalu pemerintah mengadakan “libur massal” atau cuti bersama ketika Hari Raya Nyepi (tahun baru Saka 1928) jatuh pada Kamis (30 Maret 2006). Semuanya menikmatinya dengan senang hati, bisa berlibur keluar kota, menghabiskan waktu dengan keluarga, ataupun beristirahat.

Kebijaksanaan pemerintah ini lahir untuk menghilangkan “harpitnas” (Hari Kejepit Nasional) sehingga masyarakat mempunyai waktu lebih menghilangkan kesuntukan kerja dan menghibur diri.

Sebenarnya, tujuan dari libur hari besar keagamaan adalah agar penganut suatu agama dapat merayakan hari besar keagamaannya dengan tidak masuk kantor atau sekolah. Sedangkan bagi penganut agama lain bisa dikatakan sebagai wujud dari penghormataan atas keanekaragaman agama.

Bagi umat yang merayakan hari besar keagamaan, seperti Maulid Nabi Muhammad Saw. bagi umat Islam, libur nasional dimaksudkan agar mereka bisa merayakan hari kelahiran Nabi sekaligus bisa merenungkan kembali arti kehadirannya. Tapi apakah tujuan dari hari libur nasional tercapai dengan dimajukan atau dimundurkan guna ada waktu lebih untuk menghibur diri?

Marilah kita bertanya ulang akan tujuan dari hari libur nasional. Masih bermaknakah hari-hari besar keagamaan bagi kita atau ia kita jadikan waktu untuk melepaskan kepenatan kerja dengan menghibur diri?

Maulid Nabi kita rayakan tiap tahun. Kita secara rutin melaksanakannya, baik di masjid, sekolah, maupun perkantoran. Perayaan semacam ini menjadi tidak akan bermakna jika kita menganggap Maulid Nabi sebatas acara seremonial atau rutinitas belaka.

Inti dari perayaan Maulid Nabi bukan hanya kegembiraan atas kehadiran beliau dalam sejarah, tapi yang lebih penting dari semua itu adalah meneruskan perjuangan dan cita-cita beliau. Seperti pembelaan atas kaum lemah dan papa, pembebasan kaum tertindas, dan penegakan keadilan.

Maulid kita jadikan ajang introspeksi, bukan ajang menghibur diri. Kita introspeksi apa yang salah dengan sikap dan perilaku kita yang tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan Nabi Muhammad. Inilah makna hakiki dari Maulid Nabi Muhammad.

Dengan Maulid Nabi Muhammad kita telaah kembali cerita sukses dakwah beliau di di tengah masyarakat gurun pasir, kita cari faktor-faktor pendukungnya untuk kita ejawantahkan di era modern ini. Nabi Muhammad berhasil merubah budaya masyarakat Arab dari persaudaraan yang dibangun di atas prinsip kesukuan menjadi persaudaraan yang dibangun atas keimanan.

Sejak saat itulah, jazirah Arabia dilirik oleh kekuatan besar (Romawi dan Persia), bahkan setelah wafatnya Nabi, umat Islam berhasil mengalahkan dua emperium adidaya ini dan menjadi penguasa dunia serta menjadi pelopor kemajuan ilmu pengetahuan.

Mari kita jadikan Rabiul Awal dan Maulid Nabi Muhammad sebagai sarana untuk menanamkan pribadi Nabi Muhammad dalam diri kita. Kita contoh metode dakwah beliau agar mencapai kesusksesan yang gemilang. (CMM/ds)


Jaulah Kubro Maulid Nabi

Sambas,- Kantor Departemen Agama dan Pemerintah Kabupaten Sambas melaksanakan jaulah kubro (kunjungan besar, red) Maulid Nabi Muhammad SAW pada sejumlah masjid dan sekolah. Kakandepag Sambas, Hairi Syafei mengatakan kegiatan ini tersebar pada 16 kecamatan.

"Pelaksanaan ini atas permintaan masyarakat dan tokoh agama di desa. Dalam kunjungan akbar dilakukan pemberian pencerahan kepada umat Islam, pentingnya mentauladani sifat Nabi Muhammad," kata dia, kemarin, di ruang kerjanya.

Hairi mengemukakan sifat Nabi Muhammad yaitu shiddiq, amanah, tabliq dan fathonah. Menurut dia, umat Islam harus memiliki kecerdasan dalam pribadi, masyarakat dan bernegara.

"Kita jangan terobsesi pada figure Nabi Muhammad SAW yang di deskreditkan oleh negara barat. Beliau adalah "rahmatan lil alamin" (pembawa rahmat bagi dunia). Mari kita menjadi ummatan wahidatan (umat yang satu) dan ummatan wasathan (umat menjadi mediator)," ungkapnya.

Kakandepag mengemukakan pemda akan memberikan pengarahan serta bantuan pembinaan rumah ibadah dan kegiatan keagamaan. Sebut dia, Pemda Sambas pada dasarnya mendukung kegiatan keagamaan.

"Mengingat indeks pembangunan manusia tak terlepas pada bidang agama, mental spiritual. Walaupun anggaran pembinaan keagamaan tidak mencukupi, kita berupaya mensport atau sharing dengan instansi vertikal," papar Hairi Syafei.

Lanjutnya, karena keberadaan umat di daerah ini perlu mendapat perhatian sama dengan kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Membangun tanpa dibarengi dengan agama akan hancur. "Jadi agama mesti kita bangun sebagaimana membangun sektor lainnya," ujar dia.

MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Majelis Taklim Gabungan, Taklim PT Unisem, TaklimPT PSECB, Taklim MMQ Jet Tempur, Taklim Musollah Annahdhah, Taklim PT Evox Riva pada tanggal 23 Maret 2008 mengadakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan dilaksanakan di jalan Blok R ujung.

Sebelum ceramah agama dimulai, panitia menyuguhkan hiburan kepada jamaah. Diantaranya teater islami. Pra acara juga diisi dengan pembacaan kalam ilahi, shalawat nabi.

Sambutan dibawakan oleh Rustam Sinaga ketua RW 09 KIB. Dalam sambutannya mengatakan, kegiatan Maulid Nabi adalah program keagamaan yang berguna untuk memberikan siraman rohani kepada warga dormitory.

Acara inti dari peringatan Maulid Nabi Muammad SAW ini adalah ceramah agama. Dibawakan oleh Ustaz Wuntat Wawan Sembodo. Ustaz Wuntat membawakan ceramah agama dengan pendekatan yang tidak membosankan jamaah. Gaya Wuntat yang dikenal berbau teaterikal dan olah vokal yang jelas membuat jamaah tak ingin beranjak dari tempat duduk mereka.

Wuntat dalam ceramah agamanya menekankan pentingnya sholat. Ia menjelaskan kepada jamaah tentang arti shalat. Bila jamaah memahami arti sholat maka ia akan pasrah dan ikhlas.

Masing-masing gerakan sholat itu punya arti. Ustaz Wuntat menguraikan arti gerakan sholat mulai dari gerakan pertama hingga gerakan terkahir. Setiap gerakan diartikan dengan mudah. Bila seluruh gerakan di gabungkan akan memberi arti 360 derajat. 360 derajat diartikan dengan kosong ( 0 ). Kosong adalah pasrah. Pasrah adalah penyerahan diri kepada sang pencipta. Planet di Antarakisa semuanya berbentuk O. Menurut Wuntat, Bulan, Matahari, Bumi semunaya melakukan shalat kepada pencipta.

Ketika sudah berada dalam kondisi pasrah pada saat sholat maka tidak ada lagi kepentingan dunia yang bercokol pada saat sholat berlangsung. Saat sholat, hanya pasrah kepada Allah saja yang ada.

Wuntat juga menjelaskan makna Maulid Nabi. Maulid Nabi artinya memperingati tanggal lahir Nabi Muhammad SAW. Memperingati tanggal lahir Nabi tidak pernah dilakukan pada saat Nabi Muhammad SAW masih hidup.

Salah seorang pengikut rasul setelah rasul wafat melihat adanya dekadensi semangat. Sang pengikut lalu berupaya menghidupkan semangat Nabi dengan cara melakukan Maulid Nabi. Tujuan Maulid Nabi ini adalah membangkitkan gairah Ummat Nabi Muhammad. Karena itu, Wuntat tidak setuju kalau peringatakan maulid nabi dilakukan tanpa adanya peningkatan semangat seperti semangatnya Nabi Muhammad SAW.

KESIMPULAN:

Nabi Muhammad SAW adalah nikmat terbesar dan anugerah teragung yang Allah berikan kepada alam semesta. Ketika itu, manusia berada dalam kegelapan, syirik, kufur, dan tidak mengenal Rabb pencipta mereka. Manusia mengalami krisis spiritual dan moral yang luar biasa. Nilai-nilai kemanusiaan sudah terbalik. Penyembahan terhadap berhala-berhala menjadi suatu kehormatan, perzinaan suatu kebanggaan, mabuk dan berjudi adalah kejantanan, dan merampok serta membunuh adalah suatu keberanian.

Di saat seperti ini, rahmat Ilahi memancar dari Jazirah Arab. Allah mengutus seorang rasul yang ditunggu oleh alam semesta untuk menghentikan semua kerusakan ini dan membawanya kepada cahaya Ilahi.

Meski tiada kata yang cukup mewakili untuk menggambarkan keluhuran budinya; dengan segala keterbatasan, para ulama pecintanya merangkum saat-saat kelahiran dan akhlaknya dalam untaian puisi yang indah. Kisah-kisah kelahiran Nabi yang digubah dalam bentuk untaian sajak-sajak indah dan panjang ini dikenal dengan nama maulid.

Pembacaan maulid, oleh sebagian masyarakat Muslim, menjadi sebuah ritus dalam merayakan kelahiran Rasulullah SAW hingga kini. Sebut saja yang dilakukan oleh komunitas Muslim Yaman; kalangan pesantren tradisional di Jawa Timur; komunitas habaib di Sampang, Madura; atau masyarakat Muslim di sebagian pesisir utara Jawa.

Ada beragam jenis maulid. Ada yang digubah dalam lirik-lirik nazam (kasidah murni) yang indah. Ada pula yang bercorak natsar (prosa lirik). Tapi, dalam perkembangannya, jenis Maulid yang terakhir inilah yang paling banyak digubah oleh para ulama besar yang juga ahli syair dari zaman ke zaman.

Dalam berbagai literatur kesusastraan Arab, sedikitnya ditemukan empat maulid bercorak puisi lirik yang ditulis oleh empat penyair berbeda. Namun, dari sekian banyak maulid yang bercorak prosa lirik, yang paling populer adalah Maulid Ad-Diba'i karya Al-Imam Abdurrahman bin Ali Ad-Diba'i Asy-Syaibani Az-Zubaidi atau lebih dikenal dengan sebutan Ibn Diba' (866-944 H). Dari segi usia, Maulid Ad-Diba'i ini memang yang paling tua, mencapai 500 tahun lebih.

SUMBER:

-http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.


DISUSUN OLEH: LUFTHY IREGA PRAMUDITHA

14 Februari 2009

Idul Fitri



Idul Fitri (Bahasa Arab: عيد الفطر ‘Īdu l-Fir) adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Karena penentuan 1 Syawal yang berdasarkan peredaran bulan tersebut, maka Idul Fitri atau Hari Raya Puasa jatuh pada tanggal yang berbeda-beda setiap tahunnya apabila dilihat dari penanggalan Masehi. Cara menentukan 1 Syawal juga bervariasi, sehingga boleh jadi ada sebagian umat Islam yang merayakannya pada tanggal Masehi yang berbeda. Pada tanggal 1 Syawal, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan menyelenggarakan Shalat Ied bersama-sama di masjid-masjid, di tanah lapang, atau bahkan jalan raya (terutama di kota besar) apabila area sebelumnya tidak cukup menampung jamaah. Begitu pula saat tiba Idul Adha.

Idul Fitri menandai berakhirnya puasa pada bulan Ramadhan.Shalat Idul Fitri biasanya dilakukan di lapangan. Adapun hukum dari Shalat Idul Fitri ini adalah sunnah mu'akkad. Sebelum shalat, kaum muslimin mengumandangkan takbir. Adapun takbir adalah sebagai berikut:

‘’Allahu akbar. Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illa Allahu Allahu akbar, Allahu akbar wa li-illahi al-hamd’’

Takbir mulai dikumandangkan setelah bulan Syawal dimulai. Selain menunaikan Shalat Sunnah Idul Fitri, kaum muslimin juga harus membayar zakat fitrah[1][2] sebanyak 2 kilogram bahan pangan. Tujuan dari zakat fitrah sendiri adalah untuk memberi kebahagiaan pada kaum fakir miskin. Kemudian, Khutbah diberikan setelah Shalat Idul Fitri berlangsung, dan dilanjutkan dengan do'a. Setelah itu, kaum muslimin saling bermaaf-maafan. Terkadang beberapa orang akan mengunjungi kuburan.

Diantara sekian banyak ungkapan atau ucapan selamat (arab: tahni’ah) dalam suasana hari ‘Ied Al-Fithr, nyaris semuanya tidak ada riwayatnya yang berasal dari Rasulullah SAW. Kecuali lafadz taqabbalallahu minaa wa minka, yang maknanya, "Semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda." Maksudnya menerima di sini adalah menerima segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan.

Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar[Fathul Bari 2/446] : "Dalam "Al Mahamiliyat" dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata (yang artinya) : Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)".

Ibnu Qudamah dalam "Al-Mughni" (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata : "Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : Taqabbalallahu minnaa wa minka.

Beberapa shahabat menambahkan ucapan shiyamana wa shiyamakum, yang artinya puasaku dan puasa kalian. Jadi ucapan ini bukan dari Rasulullah, melainkan dari para sahabat.

.

Kemudian, untuk ucapan minal ‘aidin wal faizin itu sendiri adalah salah satu ungkapan yang seringkali diucapkan pada hari raya fithri. Sama sekali tidak bersumber dari sunnah nabi, melainkan merupakan ‘urf (kebiasaan) yang ada di suatu masyarakat.

Sering kali kita salah kaprah mengartikan ucapan tersebut, karena biasanya diikuti dengan "mohon maaf lahir dan batin". Jadi seolah-olah minal ‘aidin wal faizin itu artinya mohon maaf lahir dan batin. Padahal arti sesungguhnya bukan itu.
Kata minal aidin wal faizin itu sebenarnya sebuah ungkapan harapan atau doa. Tapi masih ada penggalan yang terlewat. Seharusnya lafadz lengkapnya adalah
ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin,
artinya semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang).
Makna yang terkandung di dalamnya sebuah harapan agar Ramadhan yang telah kita jalani benar-benar bernilai iman dan ihtisab, sehingga kita saling mendoakan agar dikembalikan kepada kesucian, dalam arti bersih dari dosa-dosa.
Makna Kembali (aidin) adalah kembali seperti awal mula kita dilahirkan oleh ibu kita masing-masing, putih, bersih tanpa dosa.
Sedangkan makna faizin adalah menjadi orang yang menang atau beruntung. Menang karena berhasil
mengalahkan hawa nafsu, sedangkan beruntung karena mendapatkan pahala yang berkali lipat dan dimusnahkan semua dosa.

Di setiap negeri muslim, ungkapan-ungkapan ini bisa saja sangat berbeda, tergantung kreatifitas masyarakatnya sendiri. Namun bila tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW, bukan berarti memberikan ucapan yang semikian menjadi terlarang atau haram. Sebab umumnya para ulama mengatakan bahwa masalah ini tidak termasuk perkara ritual ubudiyah, sehingga tidak ada larangan untuk mengungkapkan perasaan dengan gaya bahasa kita masing-masing.
Tapi bukankah lebih baik jika kita mencontoh Rasulullah SAW…..

Wallahu a’lam bish-shawab

Tata Cara Sholat Ied

Jum`at, 26 September 2008 16:55 WIB - oleh : admin

1. Tempat Shalat Id
Banyak ulama menyebutkan bahwa petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam shalat dua hari raya adalah beliau selalu melakukannya tanah lapang dan bukan masjid, sebagaimana dijelaskan sebagian riwayat hadits berikut ini.

"Dari Abu Sa'id Al-Khudri ia mengatakan: Bahwa Rasulullah dahulu keluar di hari Idul Fitri dan Idhul Adha ke mushala (tanah lapang), yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat, lalu berpaling dan kemudian berdiri di hadapan manusia sedang mereka duduk di shaf-shaf mereka. Kemudian beliau menasehati dan memberi wasiat kepada mereka serta memberi perintah kepada mereka. Bila beliau ingin mengutus suatu utusan maka beliau utus, atau ingin memerintahkan sesuatu maka beliau perintahkan, lalu beliau pergi." [1]

Ibnu Hajar menjelaskan: "Al-Mushalla yang dimaksud dalam hadits adalah tempat yang telah dikenal, jarak antara tempat tersebut dengan masjid Nabawi sejauh 1.000 hasta." Ibnul Qayyim berkata: "Yaitu tempat jamaah haji meletakkan barang bawaan mereka."

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: "Nampaknya tempat itu dahulu di sebelah timur masjid Nabawi, dekat dengan kuburan Baqi'" [2]

2. Waktu Pelaksanaan Shalat
"Yazid bin Khumair Ar-Rahabi berkata: Abdullah bin Busr, salah seorang shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pergi bersama orang-orang di Hari Idul Fitri atau Idhul Adha, maka ia mengingkari lambatnya imam. Iapun berkata: 'Kami dahulu telah selesai pada saat seperti ini.' Dan itu ketika tasbih." [3]

Yang dimaksud dengan kata "ketika tasbih" adalah ketika waktu shalat sunnah. Dan itu adalah ketika telah berlalunya waktu yang dibenci shalat padanya. Dalam riwayat yang shahih riwayat Ath-Thabrani yaitu ketika Shalat Sunnah Dhuha.

Ibnu Baththal berkata: "Para ahli fiqih bersepakat bahwa Shalat Id tidak boleh dilakukan sebelum terbitnya matahari atau ketika terbitnya. Shalat Id hanyalah diperbolehkan ketika diperbolehkannya shalat sunnah." Demikian dijelaskan Ibnu Hajar. [4]

3. Tanpa Adzan dan Iqamah
Dari Jabir bin Samurah ia berkata: "Aku shalat bersama Rasulullah 2 Hari Raya (yakni Idul Fitri dan Idul Adha), bukan hanya 1 atau 2 kali, tanpa adzan dan tanpa iqamah." [5]

Ibnu Rajab berkata: "Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam hal ini dan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar dan 'Umar radhiallahu 'anhuma melakukan Shalat Id tanpa adzan dan iqamah."

4. Kaifiyah (Tata Cara) Shalat Id
Shalat Id dilakukan dua rakaat, pada prinsipnya sama dengan shalat-shalat yang lain. Namun ada sedikit perbedaan yaitu dengan ditambahnya takbir pada rakaat yang pertama 7 kali, dan pada rakaat yang kedua tambah 5 kali takbir selain takbiratul intiqal.

Adapun takbir tambahan pada rakaat pertama dan kedua itu tanpa takbir ruku', sebagaimana dijelaskan oleh 'Aisyah dalam riwayatnya:

"Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah bertakbir para (shalat) Fitri dan Adha 7 kali dan 5 kali selain 2 takbir ruku'." [6]

Adapun bacaan surat pada 2 rakaat tersebut, semua surat yang ada boleh dan sah untuk dibaca. Akan tetapi dahulu Nabi membaca pada rakaat yang pertama "Sabbihisma" (Surat Al-A'la) dan pada rakaat yang kedua "Hal ataaka" (Surat Al-Ghasyiah). Pernah pula pada rakaat yang pertama Surat Qaf dam kedua Surat Al-Qamar [7]

5. Apakah Mengangkat Tangan di Setiap Takbir Tambahan?
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jumhur ulama (kebanyakan ulama) berpendapat mengangkat tangan. Sementara salah satu dari pendapat Al-Imam Malik tidak mengangkat tangan, kecuali takbiratul ihram. Ini dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani [8]

6. Khutbah Id
Dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendahulukan shalat sebelum khutbah.

"Dari Ibnu 'Abbas ia berkata: Aku mengikuti Shalat Id bersama Rasulullah, Abu Bakr, 'Umar dan 'Utsman maka mereka semua shalat dahulu sebelum khutbah." [9]

Dalam berkhutbah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri dan menghadap manusia tanpa memakai mimbar, mengingatkan mereka untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jamaah Id dipersilahkan memilih duduk mendengarkan atau tidak, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

Dari 'Abdullah bin Saib ia berkata: Aku menyaksikan bersama Rasulullah Shalat Id, maka ketika beliau selesai shalat, beliau berkata: "Kami berkhutbah, barangsiapa yang ingin duduk untuk mendengarkan khutbah duduklah dan barangsiapa yang ingin pergi maka silahkan." [10]

Namun alangkah baiknya untuk mendengarkannya bila itu berisi nasehat-nasehat untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan berpegang teguh dengan agama dan Sunnah serta menjauhi bid'ah.

7. Wanita yang Haid
Wanita yang sedang haid tetap mengikuti acara Shalat Id, walaupun tidak boleh melakukan shalat, bahkan haram dan tidak sah.

8. Sutrah Bagi Imam
Sutrah adalah benda, bisa berupa tembok, tiang, tongkat atau yang lain yang diletakkan di depan orang shalat sebagai pembatas shalatnya, panjangnya kurang lebih 1 hasta. Telah terdapat larangan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melewati orang yang shalat. Dengan sutrah ini, seseorang boleh melewati orang yang shalat dari belakang sutrah dan tidak boleh antara seorang yang shalat dengan sutrah.

9. Bila Masbuq (Tertinggal) Shalat Id, Apa yang Dilakukan?
Al-Imam Al-Bukhari membuat bab dalam Shahih-nya berjudul: "Bila tertinggal shalat Id maka shalat 2 rakaat, demikian pula wanita dan orang-orang yang di rumah dan desa-desa berdasarkan sabda Nabi: 'Ini adalah Id kita pemeluk Islam'."

Adalah 'Atha` (tabi'in) bila ketinggalan Shalat Id beliau shalat dua rakaat.
Bagaimana dengan takbirnya? Menurut Al-Hasan, An-Nakha'i, Malik, Al-Laits, Asy-Syafi'i dan Ahmad dalam satu riwayat, shalat dengan takbir seperti takbir imam. [11]

10. Bila Id Bertepatan dengan Hari Jum'at
Dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami, ia berkata: Aku menyaksikan Mu'awiyah bin Abi Sufyan, dia sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam:
"Apakah kamu menyaksikan bersama Rasulullah, dua Id berkumpul dalam satu hari?" Ia menjawab: "Iya." Mu'awiyah berkata: "Bagaimana yang beliau lakukan?" Ia menjawab: "Beliau Shalat Id lalu memberikan keringanan pada Shalat Jumat dan mengatakan: 'Barangsiapa yang ingin mengerjakan Shalat Jumat maka shalatlah'."

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau berkata: "Telah berkumpul pada hari kalian ini 2 Id, maka barangsiapa yang berkehendak, (Shalat Id) telah mencukupinya dari Jum'at dan sesungguhnya kami tetap melaksanakan Jum'at." [12]

Ibnu Taimiyyah berkata: "bahwa yang ikut Shalat Id maka gugur darinya kewajiban Shalat Jum'at. Akan tetapi bagi imam agar tetap melaksanakan Shalat Jum'at, supaya orang yang ingin mengikuti Shalat Jum'at dan orang yang tidak ikut Shalat Id bisa mengikutinya. Inilah yang diriwayatkan dari Nabi dan para shahabatnya." [13]

Lalu beliau mengatakan juga bahwa yang tidak Shalat Jum'at maka tetap Shalat Dzuhur.

11. Ucapan Selamat Saat Hari Raya
Ibnu Hajar mengatakan: "Kami meriwayatkan dalam Al-Muhamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair bahwa ia berkata: 'Para shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bila bertemu di hari Id, sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain:

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ

Taqabbalallahu minnaa wa minka
Artinya: "Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kau." [14]

Kemudian dijawab dengan kalimat:

تَقَبَّلَ ياكر ىم

Taqobal ya kariim
Artinya: "Terimalah wahai (Allah) yg Mulia"
--
[dari milis itb77]

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Idul_Fitri

http://olysus.com/2008/10/06/tata-cara-shalat-idul-fitri-sesuai-sunnah/

http://rosyidi.com/selamat-idul-fitri-ala-rasulullah-saw/

[3]


Oleh : Ida Maulida